Hampir setiap kali Tiongkok disebut sebagai tujuan studi, jawabannya sama: "tapi saya tidak bisa bahasa Mandarin."
Kekhawatiran itu masuk akal, dan sebenarnya sudah lama terjawab. Ada sekelompok kampus yang anehnya jarang masuk radar pelajar Indonesia.
Ada beberapa universitas patungan di Tiongkok yang seluruh perkuliahannya berbahasa Inggris, dari kelas sampai skripsi, dan lulusannya menerima ijazah dari universitas Inggris. Bukan ijazah Tiongkok dengan keterangan tambahan, tapi ijazah yang sama persis dengan yang diterima mahasiswa di kampus induknya.
Empat kampus yang perlu kamu tahu
Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) di Suzhou. Patungan Xi'an Jiaotong University dengan University of Liverpool. Lulusannya menerima gelar University of Liverpool. Kampus terbesar di kategori ini, dengan program yang luas dari teknik sampai bisnis dan arsitektur.
University of Nottingham Ningbo China (UNNC). Kampus penuh milik University of Nottingham di Ningbo. Kurikulum, standar penilaian, dan gelarnya semua dari Nottingham Inggris.
The Chinese University of Hong Kong, Shenzhen (CUHK-Shenzhen). Berbahasa Inggris, dengan gelar dari CUHK, salah satu universitas paling dihormati di Asia.
BNBU (Beijing Normal–Hong Kong Baptist University) di Zhuhai. Model liberal arts berbahasa Inggris, hasil kerja sama Beijing Normal University dan Hong Kong Baptist University.
Keempatnya termasuk kampus yang paling sering kami bantu proses aplikasinya. Kalau kamu memang ingin sekalian belajar Mandarin, Xi'an Jiaotong University punya jalur internasional yang mapan. Kampus ini salah satu universitas riset tertua di Tiongkok.
Kampus-kampus ini tersebar di Suzhou, Ningbo, Shenzhen, dan Zhuhai. Kota-kota yang jarang masuk daftar tujuan studi, padahal semuanya berada di kawasan ekonomi paling maju di Tiongkok.
Biayanya
| Komponen | Per tahun |
|---|---|
| Uang kuliah | Rp 45 – 110 jt |
| Biaya hidup | Rp 85 – 140 jt |
| Total setahun | Rp 130 – 250 jt |
Untuk gelar Inggris, ini kira-kira seperempat sampai sepertiga biaya kuliah di Inggris sendiri, yang biaya hidupnya saja sudah GBP 10.539 sampai 13.761 setahun.
Di luar itu, beasiswa pemerintah Tiongkok termasuk yang paling murah hati di dunia dan sering tidak terisi penuh karena peminatnya jauh lebih sedikit dibanding beasiswa ke negara berbahasa Inggris. Persaingannya lebih longgar daripada yang orang duga.
Yang perlu disiapkan matang
Administrasinya berlapis dan jadwalnya kaku. Ini keluhan yang paling sering saya dengar. Terlambat satu tenggat biasanya berarti menunggu intake berikutnya. Tidak ada toleransi seperti di beberapa kampus lain. Legalisir dokumen juga butuh waktu lebih lama daripada perkiraan kebanyakan orang.
Hidup sehari-hari tetap butuh Mandarin dasar. Kuliahnya memang berbahasa Inggris, tapi begitu keluar gerbang kampus (pesan makanan, naik transportasi, ke apotek) kemampuan Mandarin sederhana sangat menolong. Sebagian besar mahasiswa internasional mempelajarinya sambil jalan, dan kampus biasanya menyediakan kelasnya.
Ekosistem aplikasi digitalnya berbeda. WeChat dan Alipay menggantikan hampir semua hal yang biasa kamu pakai. Ini butuh penyesuaian di minggu-minggu pertama, tapi bukan hambatan jangka panjang.
Hak kerja setelah lulus lebih terbatas dibanding Australia atau Inggris. Kalau tujuanmu menetap dan bekerja di negara tujuan, ini pertimbangan besar.
Untuk siapa jalur ini paling masuk akal
Kalau kamu ingin gelar universitas Inggris tanpa biaya Inggris, dan rencanamu pulang membangun karier di Indonesia atau kawasan Asia, ini salah satu jalur dengan perbandingan nilai terbaik yang ada. Dan masih relatif sepi peminat dari Indonesia.
Kalau bidangmu teknik, teknologi, atau manufaktur, tambahkan satu alasan lagi: Tiongkok adalah pusat industri itu, dan kedekatan dengan industrinya sulit ditiru negara lain.
Perbandingan dengan negara lain ada di 10 negara dengan biaya termurah.