Berita

Rupiah Rp 17.650 per Dolar: Biaya Kuliah Naik Tanpa Ada yang Menaikkan

Tidak ada kampus yang menaikkan tarif, tapi anggaran kuliah ke Australia naik 21% dalam setahun. Siapa yang terpukul, siapa yang relatif aman, dan apa yang bisa dilakukan.

Tidak ada kampus yang menaikkan uang kuliah. Tidak ada pemerintah yang mengubah syarat dana. Tapi biaya kuliah ke luar negeri untuk keluarga Indonesia naik belasan sampai dua puluh persen dalam setahun terakhir. Dan penyebabnya tidak ada hubungannya dengan pendidikan sama sekali.

Rupiah bergerak di kisaran Rp 17.650 per dolar AS pada awal September 2026, setelah sempat menyentuh Rp 17.780 pada Juni. Terhadap mata uang negara tujuan studi, pergerakannya serupa.

Angka yang sebenarnya berubah

Cara paling jujur menunjukkan dampaknya adalah dengan mengakui bahwa artikel-artikel di situs ini sendiri sempat memakai kurs yang sudah tertinggal:

Kurs lama yang kami pakaiKurs awal September 2026Selisih
AUDRp 10.500Rp 12.750+21%
EURRp 17.500Rp 20.500+17%
GBPbelum dipakaiRp 23.900n/a
USDbelum dipakaiRp 17.650n/a

Untuk kuliah di Australia, selisih 21% itu berarti anggaran tahun pertama yang tadinya diperkirakan Rp 580 juta ternyata mendekati Rp 700 juta. Untuk skenario kota besar dan jurusan teknik, angkanya menembus satu miliar.

Itu bukan kenaikan biaya. Itu rupiah yang menyusut.

Siapa yang paling terpukul, siapa yang relatif aman

Ini bagian yang menentukan apakah kamu perlu mengubah rencana atau tidak.

Paling terpukul: yang dibiayai keluarga. Setiap kali membayar uang kuliah atau mengirim biaya hidup, kamu menukar rupiah ke mata uang asing pada kurs hari itu. Tidak ada bantalan. Untuk studi tiga tahun, pergerakan kurs 20% bisa berarti selisih ratusan juta rupiah dari rencana awal.

Relatif aman: penerima beasiswa penuh. Kalau tunjanganmu dibayarkan dalam mata uang negara tujuan (LPDP, Chevening, Australia Awards, DAAD) pelemahan rupiah nyaris tidak terasa, karena kamu tidak pernah menukar rupiah untuk kebutuhan harian.

Sebagian aman: penerima beasiswa parsial. Potongan uang kuliahnya terlindungi, tapi biaya hidup yang kamu tanggung sendiri tetap terekspos.

Konsekuensinya satu: beasiswa parsial dari kampus sekarang nilainya lebih besar daripada setahun lalu, bukan karena nominalnya naik, tapi karena porsi yang tidak perlu kamu tukar jadi lebih berharga. Jalur yang selama ini paling sering dilewatkan justru jadi paling masuk akal. Dibahas di panduan beasiswa S2.

Yang tidak ikut naik

Tidak semua pos biaya terekspos kurs, dan ini sering luput saat orang panik menghitung ulang:

Artinya seluruh tahap persiapan sebelum berangkat harganya tetap. Yang naik adalah uang kuliah, biaya hidup, dan biaya visa. Kalau kamu sedang di fase persiapan, tidak ada alasan menunda. Menunda malah menambah risiko kursnya bergerak lebih jauh.

Kenapa rupiah melemah

Bank Indonesia menyebut tekanan datang dari eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, dan memicu arus dana keluar dari negara berkembang. Ditambah kebutuhan domestik musiman berupa repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

Pengamat menambahkan faktor struktural yang lebih panjang: produktivitas yang belum naik, manufaktur yang lemah, dan ekspor bernilai tambah yang terbatas. BI sendiri terus melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri untuk menjaga stabilitas.

Yang penting bagi perencanaan studimu: tidak ada yang bisa memastikan arahnya. Jadi jangan menyusun rencana berdasarkan harapan rupiah menguat.

Tiga hal praktis yang bisa dilakukan

1. Cicil beli valasnya, jangan sekaligus di akhir. Perencana keuangan menyarankan keluarga dengan kewajiban mata uang asing membeli secara bertahap. Membeli sedikit demi sedikit selama setahun membuatmu mendapat kurs rata-rata, bukan bertaruh pada satu hari pembayaran.

2. Tanyakan apakah kampus menawarkan tarif terkunci. Sebagian kampus Australia dan Inggris menawarkan uang kuliah terkunci untuk seluruh durasi studi. Ini jarang ditawarkan sendiri, jadi harus kamu tanyakan. Untuk studi tiga tahun, nilainya besar.

3. Sisakan margin 15% di anggaranmu. Bukan pas-pasan sesuai hitungan hari ini. Kalau anggaranmu hanya cukup pada kurs saat ini, satu gejolak membuat rencananya batal di tengah jalan. Dan berhenti di tengah studi jauh lebih mahal daripada menunda satu semester.

Apakah perlu ganti negara tujuan?

Belum tentu. Pelemahan rupiah terjadi terhadap hampir semua mata uang sekaligus, jadi peringkat negara termurah tidak banyak berubah. Semuanya naik bersamaan.

Yang berubah adalah jaraknya. Selisih antara Malaysia dan Australia yang dulu terasa besar, sekarang terasa jauh lebih besar lagi dalam rupiah. Untuk anggaran yang memang mepet, negara berbiaya rendah jadi jauh lebih rasional daripada setahun lalu. Perbandingannya ada di 10 negara dengan biaya termurah.

Masih ada yang ingin ditanyakan?

Kirim pertanyaanmu langsung ke Nabila lewat WhatsApp. Pesannya sudah disiapkan sesuai artikel ini, tinggal kirim, lalu lanjutkan dengan pertanyaanmu sendiri.

Tanya lewat WhatsApp